img-20170522-wa0009.jpg

PEREMPUAN NELAYAN PERLU DIBERDAYAKAN

Wilayah pesisir pantai adalah wilayah yang dihuni oleh masyarakat dengan karakteristik keluarga yang khas dan didominasi oleh penduduk setiap harinya adalah wanita dan anak-anak.  Sebagian lelaki yang terdiri dari suami maupun remaja, banyak mempergunakan waktunya untuk melaut. Pada umumnya kaum perempuan ditinggal melaut antara 1-2 minggu, sedangkan sisanya adalah nelayan biasa (melaut malam hari) dan sebagian lagi berlayar sampai sebulan atau lebih (ikut kapal besar), sehingga dapat dikatakan sebagian besar tanggungjawab kelangsungan hidup sehari-hari pada keluarga tersebut ada ditangan wanita sebagai ibu sekaligus ayah.
 
Penghidupan sebagai nelayan yang fluktuatif semakin tak pasti seiring dengan musim tangkapan hasil laut yang sulit di tebak. Keluarga nelayan yang sepenuhnya bergantung terhadap laut pasti sangat merasakan dampak dari masalah di atas. Musim paceklik membuat perekonomian menurun dan terpaksa harus berutang untuk memenuhi kebutuhan.  Keterlibatan perempuan dalam mencari nafkah untuk keluarga diwilayah pesisir atau desa desa nelayan tidak terlepas dari sistem pembagian kerja secara seksual  yang berlaku dalam masyarakat setempat. Identifikasi terhadap beban kerja ini sangat penting agar bisa memahami kedudukan dan peran perempuan dalam kehidupan rumah tangga dan masyarakat. Kegiatan perempuan pesisir disektor publik (ekonomi dan jasa) tidak hanya memberikan keuntungan ekonomi bagi rumah tangganya, kepuasan batiniyah tetapi juga menyumbang terhadp kegiatan perekonomian lokal.
 
Perempuan nelayan memiliki potensi yang lebih besar dalam mengembangan kewirausahaan dalam upaya mendukung mengatasi kondisi perekonomian keluarganya, Hal ini berdasarkan kepada pertimbangan sebagai berikut :
  1. Jumlah penduduk perempuan cukup besar dan memiliki potensi untuk di tingkatkan melalui pemberdayaan secara optimal
  2. Aktivitas perempuan yang relatif  sederhana pada saat ini mereka telah mengambil peran yang cukup besar dalam mendukung, meningkatkan dan mengelolah ekonomi keluarga
  3. Perempuan memiliki Potensi untuk berperan dalam menunjang ekonomi keluarga, implikasinya  terhadap perekonomian negara melalui Usaha Mandiri dengan penumbuhan dan perkuatan Jiwa wirausaha.
  4. Potensi sumber daya alam di dalam negeri cukup berlimpah untuk dimanfaatkan sebagai peluang usaha bagi perempuan
  5. Karakter perempuan yang Ulet, rajin, teliti, dan pekerja keras merupakan modal dasar untuk penumbuhan dan pengembangan jiwa kewirausahaan.
  6. Banyak bidang usaha yang dapat dilakukan dan diakses oleh perempuan.
  7. Dalam mendukung perekonomian bangsa supaya masyarakat sejahtera Indonesia masih membutuhkan 4,18 juta wirausaha.
  8. Adanya dukungan dari Pemerintah melalui program pemberdayaan perempuan dan pengembangan usaha kemaritiman.
 Tidak sedikit dari perempuan yang hanya melakukan pekerjaan rumah tangga sehingga banyak waktu luang karena pekerjaan sebagai ibu rumah tangga sudah selesai dikerjakan. Banyaknya curahan waktu dari perempuan yang hanya melakukan pekerjaan domestik, merupakan peluang yang perlu dimanfaatkan melalui kegiatan yang dapat menambah pengetahuan, keterampilan serta   dapat meningkatkan pendapatan keluarga.  Pengembangan karakter kewirausahaan menjadi tumpuan dan menjadi pilihan penting bagi perempuan untuk hidup lebih sejahtera, mandiri dan menolong banyak orang mengatasi pengangguran. Kajian Booz & Company mengemukakan bahwa meningkatkan lapangan kerja perempuan ke tingkat laki-laki bisa memiliki dampak langsung terhadap PDB. Tercatat di peranan perempuan meningkatkan 5% PDB di AS, 9% di Jepang, 12% di Uni Emirat Arab, dan 34% di Mesir.
 
Berbagai program untuk mencapai taget dan sasasaran di atas pemerintah melalui kementerian dan pemerintah daerah  meluncurkan program untuk mengurangi pengangguran.  Hanya saja dari berbagai program tersebut sampai saat ini masih belum menampakkan keberhasilan yang signifikan dalam mengurangi pengangguran khususnya bagi perempuan.
 
Berdasarkan beberapa kajian yang telah dilakukan bahwa program-pogram tersebut belum menampakan keberhasilan yang signifikan dalam upaya mengurangi pengangguran perempuan. Karena program tersebut sebagian besar hanya sesaat. Belum menyentuh pada akar permasalahanannya. Beberapa temuan hasil kajian dan studi pustaka yang telah dilakukan ditemukan beberapa permasalahan sebagai berikut:
  1. Perekrutan calon peserta program belum dilakukan secara selektif dan belum ada alat ukur yang relatif akurat untuk melakukan rekruitmen. Perekrutan peserta biasanya dilakukan oleh para pejabat daerah yaitu kepala Desa, Camat ataupun pejabat Kabupaten/Kota, tanpa dibekali alat/bahan  rekruitmen, sehingga dalam perekrutan dilakukan secara subyektif. 
  2. Upaya penanggulangi pengangguran kecendeungan masih terpusat di tujukan pada laki-laki, sedangkan bagi perempuan masih relatih kurang.
  3. Perempuan masih jarang dilibatkan dalam program penanggulangan pengangguran dan kemiskinan.
  4. Dalam proses pembelajaran untuk penumbuhan wirausaha baru, belum dilaksanakan secara tepat. kecenderungan dilaksanakan hanya sesaat tidak berkelanjutan, persepsi yang muncul orang tidak melakukan usaha karena tidak ada modal.
  5. Kurikulum dan Materi pembelajaran kecenderungan difokuskan pada keterampilan teknis dan manajemen sedangkan aspek kewirausahaan belum banyak diberikan.
 Berdasarkan fakta-fakta di atas, maka semua pihak terutama pemerintah perlu melakukan upaya-upaya yang serius untuk menangani masalah pengangguran perempuan  dengan  pengembangan potensi dan karakter kewirausahaan perempuan dengan model pembelajaran yang efektif dan efisien. Untuk melakukan upaya tersebut memang tidak mudah diperlukan waktu dan keuletan serta kelahlian yang cukup. Namun jika masalah masalah pengangguran perempuan dibiarkan maka dikhawatirkan akan berdampak terhadap kerawanan sosial, meningkatkan jumlah kemiskinan dan terhambatnya proses pembangunan yang lain
 
Berkaitan dengan nelayan sebagai pelaku utama usaha perikanan yang menyangkut masalah kompetensi (kemampuan) pada umumnya masih relatif rendah, hal ini ditandai dengan rendahnya tingkat pengetahuan, pendidikan dan keterampilan  mereka, yang mengakibatkan rendahnya akses terhadap teknologi, sumber permodalan, askses pasar dan lain-lain. Kondisi tersebut mengakibatkan rendah tingkat produktivitas yang pada gilirannya berakibat pada rendahnya tingkat pendapatan, rendahnya tingkat pendapatan akan berakibat pada rendahnya daya beli masyarakat. Rendahnya daya beli berimplikasi pada rendahnya tingkat kesejahteraan petani perikanan. 
 
Berdasarkan kondisi tersebut di atas maka perlu ada upaya-upaya dan langkah-langkah strategis dan mendasar untuk membantu meningkatkan kompetensi dan komitmen nelayan dalam usaha perikanan, sehingga permasalahan yang dihadapi para nelayan dapat segera diatasi. Namun demikian untuk meningkatkan kompetensi dan komitmen serta kebiasaan petani dengan berbagai karakteristiknya tidak mudah, diperlukan adanya pendekatan, teknik dan metode yang tepat. Pola dasar pemberdayaan nelayan yaitu  meningkatkan motivasi  individu dan membangkitkan kesadaran energi klolektif (kelompok) serta merubah pola pikir mereka untuk merubah nasibnya ke arah yang lebih baik,  baik secara individu maupun secara kelompok.
 
Pemberdayaan masyarakat merupakan upaya untuk meningkatkan kemampuan dan potensi yang dimiliki oleh suatu masyarakat, sehingga mereka mampu mengaktualisasi jati diri, harkat dan martabatnya secara maksimal untuk bertahan dan mengembangkan diri secara mandiri. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat dapat melepaskan diri  perangkap kemiskinan dan keterbelakangan. Pemberdayaan ekonomi berarti menyangkut upaya peningkatan pendapatan dan tingkat kesejahteraan hidup yang bertumpu pada kekuatan ekonomi sendiri, sehingga masyarakat mampu memenuhi kebutuhan hidup secara mandiri.
 
Sistem pembagian kerja secara seksual pada masyrakat pesisir telah memilah secara jelas antara pekerjan pekerjaan yang harus ditangami oleh perempuan dan laki laki. Ini merupakan sitem gender masyarakat pesisir.  Konstruksi sistem gender tersebut terbentuk karena konsekuensi dari sifat pekerjaan sebagai nelayan dan kondisi ekologi pesisir, yang sebagian besar masyarakatnya menggantungkan dari kehidupan laut. sifat atau karakteristik pekerjaan sebagai nelayan dan kondisi ekologi pesisir. Sifat atau karakteristik pekerjaan serta kondisi ekologi merupakan unsur pembeda utama dari sistem gender masyarakat non nelayan.
 
Keterlibatan perempuan dalam kegiatan publik yakni mencari nafkah dengan berdagang ikan, bekerja pada pemindangan ikan, pengeringan ikan, pembuatan krupuk dan membuka warung atau toko kecil dan sebagainya menunjukan bahwa kaum perempuan secara umum menganggap kerja sebagai kewajiban mereka. baik suami maupun istri memiliki tanggung jawab yang sama dalam mengemban kewajiban terhadap kelangsungan hidup keluarga.
 
Sehubungan dengan hal tersebut, Asosiasi Pemandu Wirausaha Indonesia (APWI) akan melakukan sinergitas program dengan Pemerintah Kabupaten Sukabumi, PT. Indonesia Power, Bank Rakyat Indonesia, dan PT. Sarana Rezeki Prima  untuk  melakukan pemberdayaan terhadap Perempuan Nelayan Melalui Usaha Produk Varian Makanan Olahan Ikan Laut Di Wilayah Ring 1 PLTU Pelabuhanratu dalam rangka  memberikan pengetahuan dan keterampilan serta pendampingan mengenai Usaha pengolahan ikan, sehingga nelayan perempuan dapat memiliki usaha secara mandiri berupa usaha pengolahan ikan dalam upaya peningkatan pendapatan dan kesejahterannya.

 
Semoga Rencana pemberdayaan perempuan Nelayan dapat berjalan dengan lancar dan Sukses secara berkelanjutan. Amiin.

Komentar

Belum ada komentar

Postkan komentar