new-normal.png

KONDISI NEW NORMAL PASCA PANDEMI COVID-19

Pemerintah Indonesia bahkan dunia, hingga saat ini belum dapat menjawab mengenai pertanyaan kapan pandemi COVID-19 akan berakhir. “Seluruh dunia juga tidak tahu, karena virus ini, untuk vaksinnya belum ditemukan. Maka dari itu, sampai dengan vaksin belum ditemukan, kita harus bisa selalu berhadapan dengan virus ini,” ungkap Wiku dalam dialog di Media Center Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Graha Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Jakarta (12/5).
 
Keadaan seperti itu harus dipahami bersama-sama bahwa pada akhirnya masyarakat Indonesia harus bisa berdaptasi dengan keadaan yang baru. Di mana ada beberapa hal baru yang harus ditegakkan di tengah rutinitas yang selama ini dikerjakan. Beberapa bentuk perubahan atau transformasi baru inilah yang kemudian melahirkan istilah “New Normal”, yakni perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan virus corona jenis baru, penyebab COVID-19.
 
Prinsip yang utama adalah harus bisa menyesuaikan pola hidup. Secara sosial, kita pasti akan mengalami sesuatu bentuk, new normal, atau kita harus beradaptasi dengan beraktifitas, dan bekerja, dan tentunya harus mengurangi kontak fisik dengan orang lain, dan menghindari kerumunan, dan bekerja, dan sekolah dari rumah.  Secara sosial disadari bahwa hal ini juga akan berpengaruh. Sebab ada aturan yang disebutkan dalam protokol kesehatan untuk menjaga jarak sosial dengan mengurangi kontak fisik dengan orang lain.
 
Ekonom dan Founder Institute for Social Economic Digital Indonesia (ISED), Sri Adiningsih mengusulkan pemerintah untuk mengembangkan infrastruktur dan pendukung ekonomi digital di era New Normal. Dia menjelaskan bahwa infrastruktur yang perlu dikembangkan seperti kecepatan internet dan memaksimalkan komputasi awan sebagai penyimpanan data yang kompetitif dan efisien di seluruh Tanah Air.  Persiapan transformasi digitalisasi pada pelayanan publik dan dunia usaha agar tidak menimbulkan kegoncangan. Serta, perlu menyiapkan semua aturan hukum terkait ekonomi digital agar aman dan nyaman bagi penggunaannya, Rabu, 20 Mei 2020.
 
Dia menjabarkan bahwa Survei Institute for Social Economic Digital Indonesia (ISED) menunjukan fleksibilitas bekerja dari rumah dan bekerja dari kantor menjadi opsi yang dapat dijalankan bersamaan dengan persentase 74 persen. Adapun 4 persen responden lainnya ingin tetap bekerja dari rumah saja dan 22 persen kembali ke kantor secara penuh. “New Normal (normal baru) menjelaskan bahwa perubahan perilaku manusia yang baru setelah adaptasi pasca pandemi Covid-19,” ujarnya. Selain itu, dia mengatakan bahwa terdapat beberapa perubahan yang sudah terjadi dan ke depan akan terus menjadi kebiasaan masyarakat, yaitu pola dan gaya hidup sehat dan masyarakat akan lebih melek serta digital savvy (cerdas digital).
 
Masyarakat saat ini dipaksa untuk beralih untuk berdampingan dengan digital. Selain itu, ke depan akan makin optimal juga pelayanan publik secara daring, gig economy atau pekerja lepas akan makin berkembang.  Sebagai informasi tambahan, berdasarkan riset yang dirilis Hootsuite, pada Januari 2020, kecepatan Internet Indonesia rata-rata hanya 20,1 Mbps atau jauh di bawah rata-rata dunia (worldwide) yang mencapai 73,6 Mbps.
 

Sumber : TEMPO.CO, Jakarta, Kamis, 21 Mei 2020 06:15 WIB

Komentar

Belum ada komentar

Posting comments after 3 bulan has been disabled.